PRELUDE

Agustus 27, 2008 at 1:59 pm (Who am I?)

Dari dulu Q pengen bwt Blog, dan sekarang alhamdulilah udah jadi, tapi isinya cuma itu doang, maklum masih beginner. Sebagai permulaan, Blog ini saya isi dengan content2 yang berbau kuliah, ya..seperti Pe Er ato tugas2 saya yang udah kelar.

Mungkin Blog ini terinspirasi sama Bloger2 senior di maya, yang karyanya selalu saya comot buat tugas kul..he2x..

Semoga berguna untuk anda…

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Variasi Bahasa Dalam Sosiolinguistik

Agustus 27, 2008 at 1:53 pm (Akademik)

by : azhr

A. Pengertian Sosiolinguistik
Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan yang sangat erat. Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kegiatan sosial ataupun gejala sosial dalam suatu masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil objek bahasa sebagai objek kajiannya. Sosiolinguistik menurut Kridalaksana merupakan ilmu yang mempelajari ciri dan pelbagai variasi bahasa, serta hubungan diantara para bahasawan dengan ciri fungsi variasi bahasa itu didalam suatu masyarakat bahasa. Sedangkan menurut Nababan, Sosiolinguistik merupakan pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan.

B. Variasi Bahasa
Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Kedua pandangan ini dapat saja diterima ataupun ditolak. Yang jelas, variasi bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan didalam masyarakat sosial. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register). Berikut ini akan dibicarakan variasi-variasi bahasa tersebut, dimulai dari segi penutur ataupun dari segi penggunanya.
1. Variasi dari Segi Penutur
Pertama, idiolek, merupakan variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Setiap orang mempunyai idiolek masing-masing. Idiolek ini berkenaan dengan “warna” suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dsb. Yang paling dominan adalah warna suara, kita dapat mengenali suara seseorang yang kita kenal hanya dengan mendengar suara tersebut Idiolek melalui karya tulis pun juga bisa, tetapi disini membedakannya agak sulit.
Kedua, dialek, yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada di suatu tempat atau area tertentu. Bidang studi yang mempelajari tentang variasi bahasa ini adalah dialektologi.
Ketiga, kronolek atau dialek temporal, yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Sebagai contoh, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, lima puluhan, ataupun saat ini.
Keempat, sosiolek atau dialek sosial, yaitu variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan dan kelas sosial para penuturnya. Dalam sosiolinguistik variasi inilah yang menyangkut semua masalah pribadi penuturnya, seperti usia, pendidikan, keadaan sosial ekonomi, pekerjaan, seks, dsb. Sehubungan dengan variasi bahasa yang berkenaan dengan tingkat, golongan, status, dan kelas sosial para penuturnya disenut dengan prokem.
2. Variasi dari Segi Pemakaian
Variasi bahasa berkenaan dengan penggunanya, pemakainya atau fungsinya disebut fungsiolek, ragam atau register. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaian ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya, bidang sastra, jurnalistik, pertanian, militer, pelayaran, pendidikan, dsb.
3. Variasi dari Segi Keformalan
Menurut Martin Joos, variasi bahasa dibagi menjadi lima macam gaya (ragam), yaitu ragam beku (frozen); ragam resmi (formal); ragam usaha (konsultatif); ragam santai (casual); ragam akrab (intimate).
Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi khidmat dan upacara resmi. Misalnya, dalam khotbah, undang-undang, akte notaris, sumpah, dsb.
Ragam resmi adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, ceramah, buku pelajaran, dsb.
Ragam usaha adalah variasi bahasa yang lazim digunakan pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, ataupun pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Wujud ragam ini berada diantara ragam formal dan ragam informal atau santai.
Ragam santai adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dangan keluarga atau teman pada waktu beristirahat, berolahraga, berekreasi, dsb. Ragam ini banyak menggunakan bentuk alegro, yakni bentuk ujaran yang dipendekkan.
Ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubngannya sudah akrab, seperti antar anggota keluarga, atau teman karib. Ragam ini menggunakan bahasa yang tidak lengkap dengan artikulasi yang tidak jelas.
4. Variasi dari Segi Sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Dalam hal ini dapat disebut adanya ragam lisan dan tulis atau juga ragam dalam berbahasa dengan menggunakan sarana atau alat tertentu, misalnya bertelepon atau bertelegraf.

C. PUSTAKA
Chaer, Abdul dkk. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta, 2004.

Permalink 6 Komentar

Konjungsi Dalam Bahasa Jerman

Agustus 27, 2008 at 1:42 pm (Akademik)

by : azhr

1.1 NEBENORDNENDE KONJUNKTIONEN
Konjungsi Nebenordnende mempunyai fungsi menghubungkan dua elemen kata, dua anak kalimat, dua induk kalimat. Dan berikut adalah macam-macam Konjungsi Nebenordnende :
Additon/ Aneinanderreihend/ Anreihung
a. und (dan)
b. sowie (dan juga …… )
c. sowohl ……. als auch (baik ……… maupun)
d. nicht nur …… sondem auch (tidak hanya ….tetapi juga….)
Alternative/ Disjunktiv
Gegensatz/ Entgegensetzen/ Adversativ
e. aber (tetapi)
f. sondern (melainkan)
g. doch (namun)
h. jedoch (tapi)
Grund/ Kausal
i. denn (karena)

1.2 UNTERORDNENDE KONJUNKTIONEN
Perbedaan Unterordnende dengan Nebenordnende adalah Nebensatz dapat diletakkan pada bagian kiri atau kanan dari Hauptsatz, Nebensatz juga dapat diletakkan di tengah-tengah Hauptsatz. Seperti contoh di bawah ini :
– Ich werde verrückt, wenn die Musik so laut spielt.
Hauptsatz Nebensatz
– Wenn die Musik so laut spielt, werde ich verrückt.
Nebensatz Hauptsatz
– Ich werde, wenn die Musik so laut spielt, verrückt.
Haupt- Nebensatz -satz
Bedingung
a. wenn (jika)
b. falls (kalau, jika, jikalau)
c. soviel/ soweit (sejauh)
Folge
d. so daß/ daß (sehingga)
e. damit (supaya)
f. um …. zu (untuk)
g. ohne daß (tanpa)
h. ohne …. zu
Grund/ Begründed
i. weil (karena)
j. da (oleh karena)
Gegengrund/ Antikausal/ Einraümend
k. obwohl (meskipun)
Tausch
l. statt daß/ anstatt daß (daripada)
m. statt ….. zu/ anstatt … zu
Vergleich
n. als (sebagai, daripada)
o. wie (seperti)
p. als ob (seolah-olah)
q. je – um so/ je – desto (semakin… semakin….)
Zeit
r. Gleichzeitigkeit.
1. als (ketika)
2. wenn (ketika)
3. während (sementara itu, selama)
s. Nicht Gleichzeitigkeit.
1. bevor/ ehe (sebelum)
2. nachdem (setelah)
3. sobald (segera)
t. Dauer
1. bis (sampai)
2. seit/ seitdem (sejak)
3. solange (selama)
Konjunktionen Ohne Eigene Bedeutung
u. Daß (bahwa)
v. Ob (apakah)

DAFTAR PUSTAKA
_________, http://de.wikipedia.org/wiki/Konjunktion
_________, http://grammatik.woxikon.de/konjunktionen.php
Koller, Gerhard und Sieglinde Gruber. Grundgrammatik Deutsch. Frankfurt :
Diensterweg Sauelaender.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar